fakta menarik Balik Gelombang PHK Imbas Corona di Indonesia

Merdeka.com – Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, sebanyak 81 persen tenaga kerja global yang berjumlah sekitar 3,3 miliar, atau 2,67 miliar pekerja saat ini terkena dampak penutupan tempat kerja akibat pandemi virus corona (Covid-19). Sementara 1,25 miliar pekerja diantaranya terancam kena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurut ILO, wabah virus corona merupakan krisis global terburuk sejak Perang Dunia II. “Ini merupakan ujian terbesar dalam kerja sama internasional selama lebih dari 75 tahun,” kata Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder.

Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Ditjen Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono, mencatat lebih dari 2,8 juta pekerja kena PHK atau dirumahkan di Indonesia. Rinciannya, pekerja formal yang kena PHK mencapai 212.394 orang.

Selain data yang dihimpun dari Kementerian Ketenagakerjaan, ada juga data dari BPJS Ketenagakerjaan. Berdasarkan catatan BPJS Ketenagakerjaan, jumlah pekerja formal yang terkena PHK mencapai 537.000 orang.

Dari angka tersebut, jika ditotal data dari Kementerian Ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan mencapai 2,8 juta orang pekerja yang dirumahkan dan di PHK akibat dampak corona.

Berikut sejumlah fakta yang dirangkum merdeka.com mengenai gelombang PHK imbas dari adanya virus corona di Indonesia.

1. Terjadi di Semua Negara, Gelombang PHK Tak Bisa Dihindari

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang melambung imbas adanya dampak Corona membuat banyak pekerja dihantui ketidakpastian. Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, menyatakan PHK yang melanda saat ini tidak cuma terjadi di Indonesia.

Hal itu tidak bisa dihindari karena memang dampak dari penyebaran virus Corona yang membuat roda ekonomi berhenti dan tidak bisa dibendung begitu saja.

“Gelombang PHK ini kan tidak hanya terjadi di kita, tapi dunia. IMF sudah bilang, PHK global sudah ada. Dalam sejarah umat manusia belum pernah terjadi yang seperti ini,” ujar Menko Luhut.

2. Presiden Minta Pengusaha Tak Lakukan PHK

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan tantangan pandemi virus corona atau Covid-19 tidaklah mudah dan harus dihadapi bersama-sama. Salah satunya meminta para pengusaha untuk tidak memecat para karyawannya.

“Mengajak kepada para pengusaha untuk berusaha keras mempertahankan para pekerjanya,” kata Jokowi dalam video conference.

3. Skenario Terburuk, Pengangguran Bertambah Hingga 5,23 Juta

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, memperkirakan tingkat pengangguran terbuka (TPT) akan semakin bertambah akibat pandemi virus corona atau Covid-19. Dia memperkirakan dalam skenario berat potensi pengangguran akan bertambah 2,92 juta orang, dan sangat berat bisa mencapai 5,23 juta jiwa.

“Ini mencerminkan bahwa tingkat pengangguran terbuka berdasar perencanaan yang sudah turun ke 5,18 persen naik 7,33 persen,” kata Menko Airlangga di Jakarta.

4. Pemerintah Klaim Langkah PHK Sudah Jadi Pilihan Akhir

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, mengucapkan terima kasih kepada pengusaha yang menjadikan kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai langkah terakhir. Saat ekonomi nasional menghadapi tekanan berat akibat wabah virus corona sejak Maret 2020.

Menteri Ida menyebut hal ini mencerminkan para pelaku usaha di Tanah Air kooperatif dalam mengikuti himbauan dari pemerintah. Seperti mengurangi upah dan fasilitas pekerja tingkat atas (tingkat Manajer atau Direktur), membatasi atau menghapuskan kerja lembur, mengurangi jam kerja, mengurangi hari kerja, dan meliburkan atau merumahkan pekerja saat pandemi covid-19 berlangsung.

5. Tak Ada Pemasukan Akibat Corona, Pengusaha Hanya Mampu Bertahan Sampai Juni

Perlahan tapi pasti wabah virus corona semakin mengancam kelangsungan dunia usaha di Tanah Air. Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sutrisno Iwantono, menyebut daya tahan pelaku usaha di Indonesia hanya kuat sampai tiga bulan ke depan jika wabah virus corona tetap berlanjut.

“Karena, diibaratkan pengusaha hanya sanggup (jangka waktu 3 bulan) membiayai pengeluaran tanpa pemasukan,” kata Iwantono.

Sebab, berdasarkan hasil kajian Apindo, banyak keluhan mengenai kelangsungan bisnisnya yang terancam gulung tikar akibat wabah corona. “Sehingga kita tarik simpulan sementara, daya tahan cash flow dunia usaha kita hanya sampai Juni 2020. Setelahnya cash flow kering, biaya pengeluaran terhenti, tanpa pemasukan dipastikan usaha terhenti” imbuhnya.

Sumber: https://m.merdeka.com/uang/5-fakta-mengejutkan-di-balik-gelombang-phk-imbas-corona-di-indonesia.html